
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pilihan berobat ke luar negeri kembali menjadi perbincangan setelah muncul konten pasien asal Indonesia yang membandingkan hasil pemeriksaan di dalam negeri dengan layanan medis di Penang, Malaysia. Perdebatan tersebut membuka kembali pertanyaan mengenai pertimbangan pasien ketika memilih fasilitas kesehatan, mulai dari kebutuhan medis, kualitas layanan, biaya, hingga akses terhadap dokter dan teknologi.
Di media sosial, pengalaman pasien yang berobat ke Penang mendapat respons beragam. Sebagian membagikan pengalaman positif, sementara lainnya menilai pasien sebaiknya memanfaatkan fasilitas kesehatan di Indonesia selama kebutuhan medisnya dapat ditangani dengan baik.
Perdebatan juga berkembang setelah muncul spekulasi mengenai latar belakang konten tersebut. Sejumlah warganet menduga konten itu berkaitan dengan promosi rumah sakit atau layanan perjalanan medis tertentu, meski dugaan tersebut belum terkonfirmasi.
Direktur BerobatkePenang.com Birgita mengatakan, arus pasien Indonesia ke Penang telah berlangsung jauh sebelum maraknya promosi layanan kesehatan melalui media sosial. Menurut dia, warga Indonesia telah berobat ke Penang sejak awal 1990-an untuk menjalani pemeriksaan kesehatan maupun mendapatkan perawatan spesialis.
“Fenomena warga Indonesia yang menyeberang ke Penang untuk mendapatkan pelayanan kesehatan sebenarnya bukanlah tren musiman atau hasil dari strategi viral marketing di media sosial semata,” kata Birgita, Selasa (1/9/2026).
Menurut Birgita, pasien asal Indonesia yang berobat ke Penang tidak hanya berasal dari wilayah yang secara geografis berdekatan. Akses penerbangan langsung membuat pasien dari sejumlah kota besar di Jawa, seperti Jakarta dan Surabaya, juga memiliki akses lebih mudah ke fasilitas kesehatan di Penang.
Ia mengatakan, beberapa pertimbangan yang kerap menjadi alasan pasien memilih Penang antara lain komunikasi dengan tim medis, biaya layanan, waktu pelayanan, serta ketersediaan peralatan medis.
“Alasan utamanya komunikasi yang lancar dengan tim medis dan biaya berobat yang sangat kompetitif, efisiensi waktu pelayanan, serta ketersediaan peralatan medis modern yang lengkap,” ujar Birgita.
Meski demikian, keputusan untuk mencari pengobatan di luar negeri tidak semestinya hanya didasarkan pada pengalaman yang beredar di media sosial. Pasien tetap perlu mempertimbangkan diagnosis, rekomendasi dokter, kebutuhan pemeriksaan lanjutan, risiko tindakan medis, serta kemampuan pembiayaan.
Birgita juga memilih tidak berspekulasi mengenai pihak di balik konten mengenai pemeriksaan usus buntu yang ramai diperbincangkan. Menurut dia, keputusan pasien untuk memilih fasilitas kesehatan perlu dikembalikan pada kebutuhan dan kondisi masing-masing.
Kasus tersebut mencuat setelah seorang pasien yang dikenal sebagai selebgram Fahira Almira membagikan pengalamannya menjalani pemeriksaan terkait masalah pencernaan. Ia sebelumnya disebut mendapat diagnosis radang usus buntu di rumah sakit Indonesia, tetapi memperoleh diagnosis berbeda setelah menjalani pemeriksaan di Malaysia.
Perbedaan hasil pemeriksaan antar fasilitas kesehatan pada akhirnya menunjukkan pentingnya second opinion dalam kondisi tertentu, terutama ketika pasien masih memiliki keraguan terhadap diagnosis atau rencana tindakan medis. Namun, keputusan menjalani pemeriksaan lanjutan tetap perlu didasarkan pada informasi medis yang memadai, bukan semata-mata mengikuti pengalaman pasien lain di media sosial.










