Kebakaran Bromo Diduga Berawal dari Perapian Pelintas Jalur

by -10 Views
banner 468x60

Surabaya, CNN Indonesia

Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) Rudijanta Tjahja Nugraha mengungkap dugaan awal penyebab kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Bromo adalah akibat ulah manusia.

banner 336x280

Rudijanta mengungkapkan kebakaran yang sementara ini sedikitnya menghanguskan 176 hektare kawasan TNBTS itu diduga dipicu oleh aktivitas manusia, dan bukan faktor alam.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Dugaan kami ada kemungkinannya kan itu faktor manusia jadi bukan faktor alam,” kata Rudijanta, Sabtu (8/8).

Dugaan tersebut didasarkan pada lokasi awal munculnya titik api yang berada di puncak tebing atau perbukitan Blok Bantengan-Jantur.

Area tersebut, kata Rudijanta, merupakan jalur tradisional yang menghubungkan Desa Argosari dengan Ranu Pani. Jalur tersebut kerap dilintasi warga maupun pendaki.

“Karena jalur di atas kami lihat awal api itu ada di puncak tebing ini puncak tebing ini kan ada jalur apa namanya jalur tradisional yang menghubungkan Desa Argosari dan Ranu Pani,” ujarnya.

[Gambas:Video CNN]

Rudijanta menduga kebakaran berawal dari aktivitas orang yang melintas di jalur tersebut dan membuat perapian untuk menghangatkan diri di tengah suhu dingin.

Api dari perapian itu diduga tidak dipadamkan dengan sempurna hingga akhirnya tertiup angin dan menyulut kebakaran lebih meluas.

“Nah kemungkinan kadang-kadang yang melintas itu kalau pas tengah-tengah dingin juga kemudian bikin perapian mungkin lupa atau seperti apa dengan cuaca seperti ini itu menjadi pemicu kebakaran seperti itu yang yang kita duga sampai saat ini,” katanya.

Soal proses hukum terhadap pihak yang diduga menjadi pemicu kebakaran, Rudijanta mengatakan pihaknya saat ini masih berfokus pada upaya pemadaman api dan belum mengarah pada penelusuran pelaku.

Ia menilai kebakaran tersebut kemungkinan besar terjadi tanpa unsur kesengajaan.

“Saat ini karena kami masih fokus dengan pemadaman, kita belum ke arah sana. Tapi menurut saya, kalau ini ada kesengajaan atau tidak sebenarnya tidak disengaja menurut kami,” tuturnya.

“Nanti kami coba lihat setelah pelajari kejadiannya seperti apa,” ujarnya.

Sementara itu, terkait kerugian akibat kerusakan vegetasi dan dampak ekologis dari kebakaran, Rudijanta mengatakan pihaknya belum melakukan penghitungan. Ia menyebut hal itu memerlukan kajian dari tenaga ahli.

“Itu belum kami hitung juga, karena ada ahli yang menghitung kerugian. Baik itu kerugian dari tanaman, rumput dan lain-lain. Itu butuh ahli,” katanya.

Hal itu disampaikan setelah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di kawasan Bromo terus meluas. Data terbaru per Jumat (7/8) menyebutkan, luas area yang terbakar mencapai sekitar 176,20 hektare.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Provinsi Jawa Timur Satriyo Nurseno mengatakan, angka tersebut masih berpotensi bertambah. Sementara proses pemadaman masih berlangsung di sejumlah titik.

“Luas area terbakar kurang lebih 176,20 hektare, data berkembang,” kata Satriyo dalam laporannya, Jumat (7/8) petang.

Kebakaran di kawasan wisata Gunung Bromo ini bermula sejak Senin (3/8) sekitar pukul 17.00 WIB.

Akibat kejadian tersebut, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) menutup sebagian kawasan wisata hingga waktu yang belum ditentukan.

Pintu masuk wisata dari arah Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang pun masih ditutup sementara.

Upaya pemadaman dilakukan BPBD dan petugas gabungan dengan menggunakan satu unit truk pemadam kebakaran, satu unit truk tangki BPBD Jatim, satu unit mobil L300 bermuatan tandon air, satu unit drone water spray serta helikopter water bombing berjenis PK-DBM milik BNPB.

(frd/chri)


banner 336x280

No More Posts Available.

No more pages to load.