
Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar menghadiri Rapat Pleno PBNU di Hotel Sultan, Jakarta, Selasa (9/12/2025). Sejumlah tokoh penting Nahdlatul Ulama dan pejabat nasional turut hadir dalam rapat tersebut. Rapat Pleno PBNU menjadi forum strategis yang akan menetapkan Penjabat (Pj) Ketua Umum PBNU pascapemberhentian KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) oleh Syuriah PBNU.
REPUBLIKA.CO.ID, JOMBANG — KH Miftachul Akhyar kembali terpilih sebagai Rais Aam PBNU periode 2026-2031 pada Muktamar NU ke-35 di Ponpes Bahrul Ulum, Jombang. Pemilihan dilakukan sembilan tim Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) di Ndalem KH Abdul Wahab Hasbullah pada Ahad (30/8/2026).
Anggota Tim AHWA, KH Anwar Iskandar mengatakan, sidang tim AHWA tersebut dipimpin oleh KH Miftachul Akhyar sebagai mantan Rais Aam. Menurut dia, mekanisme yang digunakan tim AHWA adalah musyawarah mufakat sebagaimana diperintahkan dalam Alquran.
“Memutuskan bahwa KH Miftahul Akhyar dipilih menjadi Rais Aam periode 2026-2031,” ujar Kiai Anwar saat mengumumkan hasil sidang AHWA.
Mengenal Kiai Miftah
KH Miftachul Akhyar tentu saja bukan nama baru di kalangan NU. Ulama berusia 73 tahun tersebut lahir dari tradisi NU dan melakukan pengabdian di NU sejak usia muda. Tak heran jika hari ini ia bisa mengemban puncak kepemimpinan NU, sebagai Rais Aam PBNU.
Kiai Miftah adalah Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya. Ia adalah putra Pengasuh Pondok Pesantren Tahsinul Akhlaq Rangkah, KH Abdul Ghoni. Lahir pada 1953, Kiai Miftah merupakan anak kesembilan dari 13 bersaudara.
Di NU Kiai Miftah sebelumnya juga pernah dipercaya sebagai Rais Syuriyah PCNU Surabaya 2000-2005, Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur 2007-2013, 2013-2018 dan Wakil Rais Aam PBNU 2015-2020 yang selanjutnya didaulat sebagai Rais Aam PBNU 2018-2020 di Gedung PBNU.
Menurut catatan PW LTNNU Jatim Ahmad Karomi, genealogi keilmuan Kiai Miftah juga tidak diragukan lagi. Ia tercatat pernah nyantri di Pondok Pesantren Tambak Beras, Pondok Pesantren Sidogiri Jawa Timur, Pondok Pesantren Lasem Jawa Tengah, dan mengikuti Majelis Ta’lim Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Makki Al- Maliki di Malang, tepatnya ketika Sayyid Muhammad masih mengajar di Indonesia.










