Krakatau Steel Dorong Kehadiran Negara Hadapi Distorsi Pasar Baja Global

by -13 Views
banner 468x60

Jakarta, 24 Pebruari 2026 – Struktur pasar baja global kian menunjukkan ketimpangan yang sistemik. Konsentrasi pasokan bahan baku di sisi hulu, kelebihan kapasitas produksi di berbagai negara, serta intervensi kebijakan yang agresif telah menjauhkan industri baja dari asumsi persaingan yang setara. Dalam kondisi ini, mekanisme pasar murni tidak lagi cukup untuk menjaga keberlanjutan industri nasional.

Pengamat Industri
Baja dan Pertambangan, Widodo Setiadharmaji dari Steel & Mining Insights
menegaskan bahwa dominasi segelintir perusahaan tambang global atas pasokan
bijih besi telah melemahkan posisi tawar produsen baja di banyak negara.
“Ketika struktur pasar global terdistorsi, sikap negara yang sepenuhnya pasif
justru berisiko membiarkan industri domestik tergerus secara struktural,” tulis
Widodo.

banner 336x280

Pembelajaran Global: Konsolidasi
sebagai Instrumen Kebijakan
 

Widodo
menyoroti langkah Pemerintah Tiongkok membentuk China Mineral Resources Group
(CMRG) sebagai respons kebijakan terhadap kegagalan mekanisme pasar dalam
menghadapi dominasi tambang global. Melalui konsolidasi pengadaan bahan baku
strategis, Tiongkok berupaya mengoreksi ketimpangan posisi tawar yang selama
ini membebani industri bajanya. 

Kebijakan
tersebut, menurut Widodo, bukan untuk menggantikan mekanisme pasar, melainkan
mengoreksi kegagalan pasar yang bersifat struktural. Pengalaman ini menjadi
rujukan penting bagi negara-negara lain dalam merumuskan kebijakan daya saing
industri yang lebih kontekstual. 

Tantangan Industri Baja Nasional 

Dalam
konteks Indonesia, tekanan struktural industri baja tidak hanya datang dari
sisi bahan baku, tetapi juga dari derasnya arus impor produk baja yang
terdistorsi. Kondisi ini menekan utilisasi kapasitas industri dalam negeri,
melemahkan kepastian pasar, serta meningkatkan risiko investasi jangka panjang. 

Widodo
menilai bahwa persoalan daya saing industri nasional tidak dapat disederhanakan
sebagai masalah efisiensi perusahaan semata. Tanpa penataan struktur pasar,
perbaikan internal hanya akan memberikan dampak yang terbatas.

Krakatau Steel: Negara Hadir
Jaga Ketahanan Industri

PT
Krakatau Steel (Persero)/Tbk. Krakatau Steel Group memandang pentingnya
kehadiran negara yang presisi dalam menata struktur pasar baja nasional sebagai
bagian dari upaya mewujudkan kemandirian industri, sejalan dengan Asta Cita
Presiden Republik Indonesia.

Direktur
Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, Dr. Akbar Djohan, menegaskan bahwa
industri baja nasional membutuhkan persaingan pasar yang sehat agar mampu
tumbuh berkelanjutan.

“Penataan
pasar domestik dan pengelolaan arus impor baja yang terukur menjadi kunci untuk
menjaga ketahanan industri nasional dan memastikan industri baja Indonesia
mampu bersaing secara sehat,” ujar Dr. Akbar Djohan, yang juga menjabat sebagai
Chairman Indonesia Iron & Steel Industry Association (IISIA) dan Chairman
Asosiasi Logistik & Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA).

Menata Arah Kebijakan Baja ke
Depan

Krakatau
Steel Group menilai bahwa pengalaman internasional, termasuk kebijakan
Tiongkok, tidak perlu ditiru secara mekanis. Namun, logika kebijakan di
baliknya, yakni kehadiran negara untuk mengoreksi distorsi pasar, relevan untuk
Indonesia.

Melalui
kebijakan yang selektif, terukur, dan berbasis diagnosis struktural, penataan
pasar baja nasional diharapkan mampu mencegah limpahan impor yang tidak sehat
sekaligus memperkuat fondasi industri baja nasional sebagai sektor strategis
pembangunan ekonomi Indonesia.

banner 336x280

Artikel ini juga tayang di VRITIMES

No More Posts Available.

No more pages to load.