Gebyar Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H dan Tasyakur HUT RI ke 81 Tahun 2026 tingkat Kabupaten Bandung di Dome Bale Rame Soreang, Kabupaten Bandung, Selasa (25/8/2026).
Oleh: Prof Muhammad Turhan Yani, Guru besar Fisipol dan Kepala LPPM Universitas Negeri Surabaya; Ketua Komisi Pendidikan MUI Jatim, Dewan Pakar HISPISI
REPUBLIKA.CO.ID, Setiap memasuki bulan Rabiul Awal, kita diingatkan sosok yang sangat istimewa dan mulia dalam sepanjang sejarah. Sosok yang dimaksud adalah Nabi Muhammad SAW. Suri tauladan sepanjang zaman yang menginspirasi dan memberikan harapan ketenangan dan kebahagiaan sejati bagi umat manusia karena ditakdirkan oleh Tuhan sebagai satu-satunya Nabi yang diberi ijin untuk memberikan syafa’at (pertolongan) kepada umatnya. Oleh karena itu kelahiran Nabi (Maulid Nabi) disambut dengan bahagia dan penuh harapan.
Bulan Rabiul Awal 1448 Hijriyah tahun ini beriringan dengan bulan Agustus 2026 Masehi. Sebuah momentum yang sama-sama istimewa bagi perjalanan bangsa Indonesia dan umat manusia. Bulan Agustus bagi bangsa Indonesia menjadi tonggak sejarah penting yaitu kemerdekaan, yang kini memasuki 81 tahun Indonesia Merdeka. bulan Maulid, tepatnya tanggal 12 Rabiul Awal atau 570 Masehi.
Setiap tahun, momentum ini diperingati oleh hampir seluruh Muslim dunia sehingga menjadi tonggak sejarah peradaban umat manusia yang ditandai lahirnya manusia mulia (Maulid Nabi), dengan misi memperbaiki moralitas manusia dan membawa perubahan spektakuler, dari berbagai kegelapan menuju cahaya kemuliaan (Minadzulumati ilannur).
Di antara keistimewaan Nabi Muhammad SAW adalah bahwa asal-usul penciptaan alam semesta dikaitkan dengan keberadaannya. Dalam hadits qudsi dijelaskan, seandainya tidak ada engkau Muhammad, maka Aku (Tuhan) tidak akan menciptakan alam semesta. Demikian pula hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah dan Jabir dijelaskan bahwa “Nur Muhammad” sudah tercipta lebih dahulu sebelum alam semesta ada.
Ketika Nabi Adam diciptakan, lalu mengangkat kepalanya dan mengatakan: ketika Engkau (Tuhan) ciptakan aku dari tanah, dan Engkau tiupkan ruh ke dalam tanah, aku angkat kepalaku, aku melihat di tiang ‘Arsy, ada nama yang bersanding dengan nama-Mu, yaitu Muhammad Saw.
Dengan demikian lahirnya alam semesta (maulidul ‘alam) karena mendapat barakah atas “Nur Muhammad” yang telah Tuhan ciptakan sebelum alam semesta diciptakan. Bahkan Nabi Adam pernah memohon ampun kepada Tuhan atas kesalahannya dengan wasilah (perantara) “Nur Muhammad”.
Dalam perspektif filsafat agama, Nabi Muhammad SAW adalah penerima cahaya dari Tuhan dan sebagai pembawa cahaya alqur’an, sehingga Nabi juga disebut sebagai “cahaya” yang memancarkan petunjuk ke seluruh alam semesta seisinya. Maka berbahagialah umat manusia yang setia dan istiqamah meneladaninya, kebahagiaan tersebut diperoleh tidak hanya di dunia, melainkan juga di akhirat.
Disclaimer:
Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
