Seporsi Gizi dan Upaya Mempertahankan Kemerdekaan

by -1 Views
banner 468x60


Jakarta, CNN Indonesia

banner 336x280

Sebelum azan subuh berkumandang, ibu rumah tangga bernama Nina Martina Iswandari, sudah lebih dulu terjaga di dapur rumahnya di tenggara Surabaya. Tepatnya di Kelurahan Kali Rungkut, Kecamatan Rungkut.

Di pagi-pagi buta, perempuan 45 tahun itu sudah sibuk dengan kompor, wajan dan sutil (spatula) demi tiga anaknya yang akan berangkat sekolah. Rutinitas itu telah dijalaninya bertahun-tahun, jauh sebelum program Makan Bergizi Gratis (MBG) hadir di sekolah anak-anaknya.

“Saya biasanya bangun tidur dari sebelum subuh ya. Soalnya kan anak saya tiga, dan saya harus menyiapkan bekal untuk mereka,” kata Nina, memulai ceritanya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tiga anaknya, termasuk Aliyah Putri Premono siswa kelas IX SMPN 23 Surabaya, punya jadwal dan selera yang berbeda-beda.

Bagi Nina, menyiapkan bekal untuk tiga anak dengan selera berbeda, sembari mengejar waktu agar semuanya tiba tepat waktu di sekolah, tentu bukan perkara mudah. Ia mengakui, dalam rutinitas yang menuntut kecepatan itu, ada kalanya ia kewalahan.

“Jadi jam 06.00 WIB itu kalau bisa mereka sudah di sekolah. Otomatis saya kan kejar-kejaran waktu juga. Kadang-kadang ada kelewatan, terus ya ada malah kadang saya bilang ‘nanti-nanti enggak nututin waktunya’. Ya namanya ibu-ibu ya kan, kadang ada capeknya, jadi butuh ekstra waktu juga,” katanya.

Kegiatan Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMPN 23 Surabaya, Jawa Timur.Nina Martina Iswandari. (CNN Indonesia/Farid Rahman)

Karena itu, kehadiran MBG, menurut Nina, perlahan mengubah lanskap kesibukannya saban pagi. Bukan menggantikan sepenuhnya perannya sebagai ibu yang menyiapkan makanan, tetapi meringankan sebagian beban yang selama ini ia pikul sendiri di dapur. MBG, kata dia juga memperingan pengeluaran keluarganya.

“Terus habis itu juga pengeluaran juga otomatis ya, ya kalau kita emak-emak itu, ibu-ibu itu, ya segitu-gitu udah itu otomatis agak sedikit berkurang karena kan buahnya sudah ada, susunya sudah ada,” ucapnya.

Bagi Nina, MBG juga membebaskannya dari beban memikirkan menu harian yang harus disukai tiga anak sekaligus. Proses itu tak sesederhana kelihatannya, ia harus bernegosiasi dengan selera masing-masing anak.

Di ruang lain, di balik meja kerja sebagai koordinator MBG sekaligus guru BK SMP Negeri 23 Surabaya, Febrina Handayani, menyaksikan langsung dampak program ini dari sudut pandang yang berbeda.

Guru berusia 39 tahun ini melihat perubahan yang baik. Sebelum MBG hadir, Febrina mengamati banyak siswanya lebih memilih jajanan praktis di kantin, pilihannya biasanya jatuh pada makanan yang jauh dari kata cukup bergizi dan cukup bernutrisi.

“Kalau saya lihat memang sebelum MBG itu memang anak-anak lebih sering ke kantin,” katanya.

Kegiatan Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMPN 23 Surabaya, Jawa Timur.Koordinator MBG sekaligus guru BK SMP Negeri 23 Surabaya, Febrina Handayani. (CNN Indonesia/Farid Rahman)

Febrina juga mengamati, bagi sebagian siswa dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas, kehadiran MBG bahkan menjadi penopang yang jauh lebih penting dari sekadar persoalan gizi.

“Jadi, orang tua yang mungkin dengan kondisi ekonomi yang mepet ngasih uang saku ke anak misalnya hanya Rp5.000 saja, nah, itu akhirnya terbantu,” ujarnya.

Febrina bahkan mengetahui ada dua hingga tiga siswanya di SMPN 23 Surabaya yang menjadikan MBG sebagai alasan utama untuk tetap datang ke sekolah.

Tak hanya itu, perubahan yang paling ia rasakan justru ada pada semangat dan fokus belajar siswa di kelas. MBG menurutnya, juga turut mempererat interaksi sosial antarsiswa, terutama saat ada yang berbagi makanan dengan teman yang tak menghabiskan porsinya.

“Alhamdulillah lebih fokus kalau ya mungkin bisa dikatakan ya, kalau perutnya sudah terisi itu berarti semangatnya untuk menerima ilmu di kelas juga lebih bertambah. Kelas ini juga ada komunikasi, kompak gitu kan,” ujarnya.

Bagi Febrina, semangat yang tumbuh dari perut yang terisi, dan gizi serta nutrisi yang terpenuhi itu punya makna yang jauh lebih besar dari sekadar rutinitas harian.

Kegiatan Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMPN 23 Surabaya, Jawa Timur.Koordinator MBG sekaligus guru BK SMP Negeri 23 Surabaya, Febrina Handayani, melakukan serah terima MBG dari pihak SPPG. (CNN Indonesia/Farid Rahman)

Dalam pandangannya, sekolah negeri yang membebaskan siswa dari biaya pendidikan, buku, hingga makan siang seharusnya menghapus segala alasan murid untuk absen dari bangku sekolah.

“Di sini itu sudah tidak dituntut apa-apa, dan makan juga dapat gratis seperti itu. Jadi Alhamdulillah anak-anak senang, malah senang berangkat ke sekolah dan malah lebih bersemangat,” ujarnya.

Lebih jauh, Febrina memaknai MBG bukan sekadar program bantuan gizi semata, melainkan bagian dari upaya bangsa mempertahankan cita-cita kemerdekaannya sendiri. Ia mengaitkan program ini dengan visi besar Indonesia Emas 2045 yang menuntut generasi muda dengan ketahanan fisik dan kognitif yang mumpuni.

“Salah satu cara untuk kita itu mempertahankan negara ini dengan cara seperti MBG ini, iya kan?,” kata Febrina.

Bagi Febrina, mempertahankan kemerdekaan bukan lagi soal mengangkat senjata, atau soal simbol berulang pada perayaan tahunan. Tapi tentang bagaimana generasi penerus disiapkan sejak dini dengan gizi dan nutrisi untuk bertahan menghadapi zamannya sendiri.

Karena itu, menurut Febrina, MBG tetap layak dan harus dilanjutkan. Alasannya sederhana, tidak semua wali murid punya kesempatan, waktu dan kemampuan finansial untuk membekali anak-anaknya setiap hari. Meski begitu, ia menitipkan catatan soal pemerataan penyaluran program ini, khususnya untuk sekolah-sekolah di daerah tertinggal, terdepan dan terluar (3T).

Kegiatan Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMPN 23 Surabaya, Jawa Timur.Kegiatan Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMPN 23 Surabaya, Jawa Timur. (CNN Indonesia/Farid Rahman)

Di sela pembicaraan soal manfaat MBG bagi siswa, Febrina turut menyisipkan harapan pribadinya sebagai seorang guru. Ia mengakui, di balik dedikasinya mendampingi siswa dari pagi hingga sore, ada sisi kesejahteraan yang menurutnya masih perlu mendapat perhatian lebih.

Baginya, perhatian terhadap kesejahteraan guru sama pentingnya dengan program gizi untuk siswa, karena keduanya berjalan beriringan dalam membentuk kualitas pendidikan.

Dari dapur seorang ibu yang bangun sebelum subuh, hingga ruang kelas seorang guru yang menyaksikan mata murid-muridnya lebih berbinar setiap pagi, MBG hadir menjemput semangat anak-anak. Di titik itulah gizi dan kemerdekaan bertemu.

Kemerdekaan hari-hari ini, bukan lagi ada di slogan lantang tentang bangsa yang besar. Tapi pada hal sesederhana, di sepiring makanan yang membebaskan tiap Anak Indonesia untuk tetap datang ke sekolah, belajar, dan bermimpi. Perubahan baik sedang terjadi.

(frd/har)


placeholder

banner 336x280

No More Posts Available.

No more pages to load.