Skor ESG Tinggi dan Free Float Saham Kuat, WIKA Beton Wakili Emiten Indonesia Berstandar Global

by -35 Views
banner 468x60

PT Wijaya Karya Beton Tbk (WIKA Beton) kian mengukuhkan reputasinya di kancah internasional lewat capaian skor Environmental, Social, and Governance (ESG) sebesar 71 dari 100 dalam penilaian S&P Global Corporate Sustainability Assessment (CSA) yang diumumkan pada 6 Februari 2026. Skor tersebut menempatkan WIKA Beton di kelompok teratas perusahaan industri material konstruksi global dan mempertegas posisinya sebagai pemain berstandar dunia.

Berdasarkan distribusi skor sektor material konstruksi dalam CSA, raihan 71 mengantarkan WIKA Beton ke kelompok Top Quintile, atau sekitar 13 persen teratas perusahaan secara global. Lonjakan dari skor 46 pada tahun sebelumnya ini mencerminkan akselerasi kinerja keberlanjutan yang signifikan, sekaligus hampir dua kali lipat di atas rata-rata industri global yang berada di kisaran 38.

banner 336x280

Lompatan ESG ini tidak berdiri sendiri, tetapi selaras dengan transformasi strategis yang dicanangkan sejak 2024 melalui visi “Perusahaan Global Terpercaya Berkelanjutan Pemberi Solusi di Industri Beton” dan pembaruan identitas korporasi. Transformasi tersebut menegaskan bahwa prinsip keberlanjutan tidak lagi diposisikan sebagai pelengkap, melainkan diintegrasikan langsung ke dalam strategi bisnis, proses operasional, hingga pengambilan keputusan jangka panjang.

Konsistensi WIKA Beton juga tercermin dari partisipasi berulang dalam S&P Global CSA. Hingga penilaian 2026 ini, WIKA Beton telah mengikuti proses rating tersebut sebanyak lima kali secara berturut-turut, menunjukkan kedisiplinan perusahaan untuk membuka diri pada evaluasi independen dan melakukan perbaikan berkelanjutan dari tahun ke tahun.

Skor ESG 71 WIKA Beton tersusun dari tiga dimensi utama, yakni Environmental, Social, serta Governance & Economic, dengan pilar Social menjadi penopang terkuat. Pada dimensi Social, perusahaan mencatatkan skor tertinggi di antara tiga pilar, diikuti dimensi Environmental dan dimensi Governance & Economic . Komposisi ini menunjukkan bahwa pengelolaan aspek sosial dan lingkungan sudah bergerak melampaui kepatuhan minimum menuju penciptaan nilai tambah.

Pada dimensi Social, skor didukung antara lain oleh kriteria Environmental Policy & Management dan Materiality. Salah satu manifestasi konkret dari kebijakan dan pendekatan materialitas tersebut adalah pengembangan WHOME (WIKA Beton Home), hunian modular ramah lingkungan yang dirancang dengan prinsip desain berkelanjutan, efisiensi material, dan pengurangan jejak karbon. WHOME, rumah pracetak tipe 36 yang tahan gempa dan memenuhi standar struktur nasional, dapat dipasang hanya dalam waktu dua hari, sedangkan proses penyelesaian hingga siap huni membutuhkan sekitar 12–20 hari, menjadikannya solusi strategis untuk perumahan modern maupun hunian tetap pascabencana.

Di dimensi Environmental, WIKA Beton mengantongi skor antara lain ditopang oleh kriteria Biodiversity. Implementasi komitmen pelestarian keanekaragaman hayati itu tampak dalam program Concrete Reef Unit (CRU), yaitu unit beton khusus yang dipasang sebagai struktur buatan untuk restorasi terumbu karang dan memecah arus ombak laut. Hingga saat ini, WIKA Beton telah memproduksi dan menempatkan sekitar 5.500 unit CRU di kawasan pantai Gili Meno, Lombok, sehingga mendukung pemulihan habitat biota laut sekaligus menunjukkan bahwa inovasi material konstruksi dapat berjalan seiring dengan pemulihan ekosistem pesisir terkait abrasi pantai.

Di pasar modal, profil keberlanjutan tersebut ditopang struktur kepemilikan yang relatif sehat. Porsi saham publik (free float) WIKA Beton tercatat berada di kisaran di atas 38 persen, jauh melampaui ketentuan minimum 15 persen yang tengah disiapkan Bursa Efek Indonesia untuk menyesuaikan standar free float global, termasuk ekspektasi lembaga indeks seperti MSCI. Posisi ini memberi ruang likuiditas yang lebih leluasa bagi investor institusi maupun ritel yang mengutamakan transparansi dan tata kelola dalam memilih emiten.

Direktur Utama WIKA Beton, Kuntjara, menegaskan bahwa capaian ESG tersebut bukan sekadar pengakuan atas kepatuhan, tetapi bukti bahwa keberlanjutan telah menjadi sumber keunggulan kompetitif. “Skor ESG 71 yang berada di atas rata-rata industri global menegaskan bahwa penerapan prinsip keberlanjutan di WIKA Beton telah menjadi sumber penciptaan nilai dan penguatan daya saing perusahaan. ESG kami jalankan sebagai strategi bisnis untuk mendukung kinerja jangka panjang dan kepercayaan pemangku kepentingan,” ujar Kuntjara.

Sebagai bagian dari ekosistem Danantara dan BUMN, WIKA Beton berkomitmen melanjutkan penguatan tata kelola, percepatan implementasi strategi iklim, dan peningkatan efisiensi energi, seraya memperluas portofolio solusi beton rendah karbon yang relevan dengan agenda dekarbonisasi sektor konstruksi global. Ke depan, perusahaan menargetkan peran yang semakin besar sebagai mitra terpercaya dalam pembangunan infrastruktur yang inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing global, sejalan dengan tren 2026 yang menjadikan ESG bukan lagi sekadar kewajiban pelaporan, melainkan strategi pertumbuhan dan diferensiasi pasar.

Di sisi lain, dinamika pasar modal menunjukkan bahwa karakteristik WIKA Beton mulai dipandang sejalan dengan konsep boutique stock yang banyak dibahas kalangan pengamat pasar. Chairman dan Founder Masyarakat Investor Independen (MII) Indonesia, Thendri Supriatno, mendefinisikan boutique stock sebagai emiten dengan spesialisasi tinggi dan fokus bisnis yang jelas, memiliki keunggulan kompetitif spesifik dan fundamental solid, namun kerap belum mendapat perhatian luas dari pasar. Mereka bukan saham berkapitalisasi besar yang ramai diperdagangkan, tetapi justru di segmen inilah peluang value investing yang sesungguhnya sering muncul.

Dalam pandangan Thendri, tidak sedikit investor kecil yang minim akses informasi lalu terjebak pada saham-saham besar yang fluktuatif semata karena mengikuti arus sentimen. Sebaliknya, boutique stock dengan fundamental yang jelas dan valuasi atraktif menawarkan value proposition yang lebih terukur bagi investor yang memahami apa yang mereka beli. Pasar modal, menurutnya, tidak bisa dibiarkan menjadi sekadar arena tebak-tebakan harga; investor perlu mengerti model bisnis, risiko, dan prospek emiten yang mereka pilih, beserta alasan rasional di balik keputusan investasinya.

Salah satu contoh emiten yang kian kerap dikaitkan dengan profil boutique stock di Indonesia adalah PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON), yang di tengah penguatan kinerja keberlanjutan juga baru saja mencatat kontrak baru senilai sekitar Rp4 triliun sepanjang 2025. Karakteristik spesialisasi di industri beton pracetak, dukungan ekosistem BUMN dan Danantara, rekam jejak ESG yang menguat melalui lima kali partisipasi dalam rating S&P Global CSA, free float yang sudah berada di atas ketentuan minimum MSCI, serta pertumbuhan yang relatif terukur, menjadikan WIKA Beton sebagai alternatif investasi yang kian relevan di tengah volatilitas pasar, terutama bagi investor yang mengedepankan pemahaman fundamental dan perspektif jangka panjang.

banner 336x280

Artikel ini juga tayang di VRITIMES

No More Posts Available.

No more pages to load.